Thursday, April 18, 2013

PENUNGGUN KARANG





Penunggun Karang dalam Sastra Dresta disebut Sedahan Karang (di perumahan) untuk membedakan dengan Sedahan Sawah (di sawah) dan Sedahan Abian (di kebun/ tegalan/ abian).
Untuk Bali, melindungi senyawa rumah, isi dan penghuni sebuah rumah adalah tugas besar yang tidak dapat ditangani secara efektif oleh dinding dan gerbang saja, terutama ketika berhadapan dengan gangguan mistis. Untuk gangguan Bali mistis nyata seperti yang fisik dan beberapa Bali lebih menekankan pada gangguan mistis ketika berhadapan dengan melindungi masalah rumah karena tidak dapat dirasakan dengan kasat mata dan terbukti lebih sulit untuk menangani daripada gangguan fisik semata.
Bali percaya bahwa gangguan mistis harus ditangani oleh wali mistis karena manusia biasa tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menembus ke dalam alam mistis meskipun seseorang memiliki cukup pengetahuan kekuatan mistis dia tidak bisa tetap waspada 24 jam dalam rangka untuk menjaga rumahnya dari serangan mistis.
rumah khas Bali biasanya memiliki dua tempat bangunan suci yangeduanya memeiliki fungsi bertindak sebagai wakil penghuni di alam mistis. Tempat suci tersebut terletak di dalam kompleks rumah.
Tempat tersebut adalah Sanggah pemerajan dan Sanggah Pengijeng karang
Sanggah Pengijeng karang
Sering juga disebut dengan Tugu Pengijeng, Penunggun Karang atau Tugun Karang atau Tugu Karang, diterjemahkan secara harfiah menjadi "kuil untuk penjaga rumah"
  • kata "sanggah / tugu" berarti "tempat / bangunan suci",
  • kata "pengijeng" berarti penjaga. (berasal dari kata "ngijeng" berarti "untuk menjaga" atau "untuk tinggal di rumah") dan
  • kata "karang" berarti "halaman rumah".
Sanggah pengijeng karang adalah bangunan beratap dengan permanen. ini terletak dalam rumah, Sedahan Karang boleh ditempatkan di mana saja asal pada posisi “teben” jika yang dianggap “hulu” adalah Sanggah Kemulan, kurang lebih di sisi barat laut kompleks rumah atau sisi barat bangunan “bale daja”, memiliki fungsi pelindung, penjaga, wakil dan pengasuh penghuni rumah beserta isi dari pekarangan rumah tersebut.
Bangunan ini didedikasikan untuk Kala Raksa, atau Bhatara Kala - dewa roh-roh jahat. Bali percaya bahwa ketika mereka menggunakan dewa roh jahat sebagai wali, logis, tidak ada roh jahat akan berani mengganggu lingkungan rumah dan penghuninya. Seperti hal-hal lain di Bali, tidak ada keseragaman dalam nama dan fungsi dari bangunan kuil ini. Beberapa Bali mengatakan itu didedikasikan untuk Bhatara Surya, matahari. Lain mengklaim memiliki hubungan dengan tepuk kanda (kanda pat) - empat saudara spiritual dari setiap orang Bali. Kuil ini kadang-kadang digambarkan sebagai untuk keluarga. Kata "keluarga" di sini bisa berupa fisik keluarga yang tinggal dalam dinding-dinding rumah atau senyawa untuk pat kanda - keluarga mistis yang tinggal di alam mistis.
Sedahan Karang dalam Lontar Sudamala
dalam Lontar Sudamala disebutkan bahwa Sang Brahman Tuhan Yang Maha Esa, turun ke semesta dengan dua perwujudan yaitu sang hyang wenang dan sang hyang titah. Setelah itu beliau memiliki fungsi sebagai berikut:
  • Hyang Titah menguasai alam Mistis termasuk didalamnya alam Dewa dan Bhuta kala, sorga dan neraka bergelar Bethara Siwa yang kemudian menjadi Hyang Guru, sedangkan
  • Hyang Wenang turun ke mercapada, dunia fana ini berwujud semar atau dalam susatra bali disebut Malen, yang akan mengemban dan mengasuh isi dunia ini. 
Dalam aplikasinya, Hyang Titah berstana di “hulu” yaitu komplek Sanggah pemerajan, sedangkan Hyang Wenang berstana di “Teben” yaitu di komplek Bangunan Perumahan berupa sedahan karang. Mengenai bentuk bangunan juga menyerupai penokohan yang berstana didalamnya. Misalnya: stana hyang guru selalu diidentikan dengan kemewahan dan diatasnya menggunakan tutup “gelung tajuk” atau sejenisnya sebagai perlambang penguasa sorga. Sedangkan sedahan karang bentuknya menyerupai bentuk pewayangan “Malen” yaitu sederhana tapi kekar dengan atasan menyerupai hiasan “kuncung” seperti bentuk ornament kepala dari wayang semar.
Sedahan Karang dalam Lontar Kala Tatwa.
Dalam lontar Kala Tattwa disebutkan bahwa Ida Bethara Kala bermanifestasi dalam bentuk Sedahan Karang/ Sawah/ Abian dengan tugas sebagai Pecalang, sama seperti manifestasi beliau di Sanggah Pamerajan atau Pura dengan sebutan Pangerurah, Pengapit Lawang, atau Patih.
Di alam madyapada, bumi tidak hanya dihuni oleh mahluk-mahluk yang kasat mata, tetapi juga oleh mahluk-mahluk yang tidak kasat mata, atau roh. Roh-roh yang gentayangan misalnya roh jasad manusia yang lama tidak di-aben, atau mati tidak wajar misalnya tertimbun belabur agung (abad ke 18) akan mencari tempat tinggal dan saling berebutan. Untuk melindungi diri dari gangguan roh-roh gentayangan, manusia membangun Palinggih Sedahan.
Karena fungsinya sebagai Pecalang, sebaiknya berada dekat pintu gerbang rumah. Jika tidak memungkinkan boleh didirikan di tempat lain asal memenuhi aspek kesucian.
Dalam kala tatwa juga disinggung mengenai lahirnya Dewa Kala yang merupakan cikal bakal dari Sedahan Karang, dimana Dewa Kala dikatakan lahir saat dina kajeng klion nemu dina saniscara yang dibali dengan istilah “tumpek”.
Jadi baiknya disarankan agar odalan Sedahan Karang disesuaikan dengan hari kelahiran dari Dewa yang berstana disana yaitu saat “tumpek”. Untuk itu silahkan dipilih Tumpek yang mau dijadikan odalan Sedahan Karang dari sekian banyak hari raya Tumpek dibali untuk menghormati keberadaan Dewa Kala.
Sedahan Karang dalam Lontar Asta Kosala Kosali dan Asta Bhumi
dalam perhitungan dasar Asta Bhumi, pekarangan rumah biasanya dibagi menjadi sembilan, yakni dari sisi kiri ke kanan; nista, madya dan utama serta dr sisi atas ke bawah; nista, madya dan utama. seperti gambar disamping. sehingga terdapat 9 bayangan kotak pembagian pekarangan rumah. adapun pembagian posisi tersebut antara lain:
  1. posisi utamaning utama adalah tempat "Sanggah Pemerajan"
  2. posisi madyaning utama adalah tempat "Bale Dangin"
  3. posisi nistaning utama adalah tempat "Lumbung atau klumpu"
  4. posisi madyaing utama adalah tempat "Bale Daje atau gedong"
  5. posisi madyaning madya adalah tempat "halaman rumah"
  6. posisi nistaning madya adalah tempat "dapur atau pawon / pasucian" 
  7. posisi nistaning Utama adalah tempat "Sedahan Karang
  8. posisi nistaning Madya adalah tempat "bale dauh, tempat tidur"
  9. posisi nistaning Nista adalah tempat "cucian, kamar mandi dll" biasanya digunakan tempat garase sekaligus "angkul- angkul" gerbang rumah.
setelah mengetahui posisi yang tepat sesuai dengan Asta Bhumi diatas untuk posisi sedahan karang, selanjutnya menentukan letak bangunan Sedan Karang tersebut. yaitu dengan mengunakan perhitungan Asta Kosala Kosali, dengan sepat atau hitungan tampak kaki atau jengkal tangan. perhitungannya dengan konsep Asta Wara (Sri, Indra, Guru, Yama, Rudra, Brahma, kala, Uma). adapun perhitungannya:
  • untuk pekarangan yang luas ( sikut satak ), melebihi 4 are atau sudah masuk perhitungan "sikut satak", posisi Sedahan Karang dihitung dengan: dari utara menuju Kala ( 7 tapak ) dan dari sisi barat menuju Yama ( 4 tampak ).adapun alasannya adalah:sesuai dengan fungsi Sedahan karang yaitu sebagai pelindung dan penegak kebenaran yang merupakan dibawah naungan dewa Yama dipati (hakim Agung raja Neraka), serta tetap sebagai penguasa waktu dan semua kekuatan alam yang merupakan dibawah naungan Dewa kala. ini dimaksudkan agar Sedahan Karang berfungsi maksimal sesuai dengan yang telah diterangkan diatas tadi.
  • untuk pekarangan sempit yaitu pekarangan yang kurang dari 4 are seperti BTN, posisi Sedahan Karang dihitung dengan: dari utara  dan barat cukup menuju Sri atau 1 tampak saja. dengan maksud agar bangunan tersebut tetap berguna walau tempatnya cukup sempit, tapi dari segi fungsi tetap sama.
menurut bapak Made Purna, salah satu narasumber dari desa Guwang Sukawati. Rumah dikatakan sebagai replika kehidupan kemasyarakatan. dimana setiap bangunan rumah adat bali tersebut memiliki fungsi yang sangat mirip dengan fungsi bangunan / pura di tingkat desa perkaman. diantaranya:
  • Sanggah Pemerajan merupakan Sorga, tempat berstana dan berkumpulnya istadewata / dewata nawa sanga, atau merupakan simbol Pura Dalem,
  • Bale Dangin, merupakan simbol Bathara Guru, dimana setiap upacara adat selalu diselenggarakan di bale ini, sehingga bale ini sering juga disebut bale bali (bali = wali = upacara),
  • Bale Daja, merupakan simbol Bathara Sri Sedhana, simbol kewibawaan, tempat penyimpanan harta benda, sehingga sering juga disebut dengan istilah Gedong, atau Bale penangkilan (tempat tamu menunggu),
  • Bale Dauh, merupakan simbol Dewa Mahadewa, balai sosial tempat beristirahat,
  • Bale Delod, biasanya digunakan sebagai dapur atau Paon, merupakan simbol Dewa Brahma, Dewa Agni, merupakan sumber pembakaran, pemunah tapi merupakan sumber kesejahtraan,
  • Sumur merupakan simbol Dewa Wisnu yang merupakan pemelihara lingkungan rumah,
  • Bale Lumbung atau Klumpu, merupakan simbol Dewi Sri, tempat menyimpan makanan,
  • Lebuh tempat ditanamnya Ari-ari, merupakan symbol Hyang Bherawi, penguasa kuburan
  • Sedahan Karang merupakan simbol Hyang Durga Manik, merupakan Pura Prajapatinya atau ulun kuburan di rumah.
jadi simbolis Hulu adalah Pura dalem (sanggah pemerajan), Teben adalah lebuh natah, tempat ari-ari yang memiliki pura prajapati bernama Sedahan Karang.

Yang perlu diperhatikan, bangunan Palinggih Sedahan harus memenuhi syarat:

  • pondamennya batu dasar terdiri dari dua buah bata merah masing-masing merajah “Angkara” dan “Ongkara”
  • sebuah batu bulitan merajah “Ang-Mang-Ung”; berisi akah berupa tiga buah batu: merah merajah “Ang”, putih merajah “Mang”,dan hitam merajah “Ung” dibungkus kain putih merajah Ang-Ung-Mang
  • di madia berisi pedagingan: panca datu, perabot tukang, jarum, harum-haruman, buah pala, dan kwangen dengan uang 200, ditaruh di kendi kecil dibungkus kain merajah padma dengan panca aksara diikat benang tridatu
  • di pucak berisi bagia, orti, palakerti, serta bungbung buluh yang berisi tirta wangsuhpada Pura

Persyaratan ini ditulis dalam Lontar Widhi Papincatan dan Lontar Dewa Tattwa. Jika palinggih sedahan tidak memenuhi syarat itu, yang melinggih bukan Bhatara Kala, tetapi roh-roh gentayangan itu antara lain Sang Butacuil.


Jika sedahan karang di-”urip” dengan benar, maka fungsi-Nya sebagai Pecalang sangat bermanfaat untuk menjaga ketentraman rumah tangga dan menolak bahaya sehingga terwujudlah rumah tangga yang harmonis, bahagia, aman tentram, penuh kedamaian.

DUDONAN PEMARGI PIODALAN



Dudonan Pemargi Piodalan sebagai berikut:
  1. Membuat tirta-tirta (dengan petunjuk surya sewana), yaitu tirta pelukatan/ pebersihan. Atau kalau belum bisa, agar memohon tirta pelukatan/ pebersihan, tirta banten, tirta penugrahan, tirta caru dari Geria Ida Sang Wiku.
  2. Mereresik dengan sarana yang ada, apakah pedudusan alit, atau madya.
  3. Mepiuning ring Sanggar Surya
  4. Mecaru (menurut jenis caru yang tersedia)
  5. Nuwur/ nedunang Ida Bhatara
  6. Nyuciang Ida Bhatara dengan banten kalahyas, prayascita, durmenggala.
  7. Ngelinggihang Ida Bhatara
  8. Ngaturang ayaban/ wali
  9. Muspa
  10. Mewangsuhpada/ mabija
  11. Parama santhi.

PUJA TRISANDYA DAN PANCA SEMBAH




Pada umumnya, sebelum melakukan persembahyangan — baik dengan puja Trisandya maupun Panca Sembah — didahului dengan penyucian badan dan sarana persem-bahyangan. Urutannya sebagai berikut:


Duduk dengan tenang. Lakukan Pranayama dan setelah suasananya tenang ucapkan mantram ini:
Om prasada sthiti sarira siwa suci

nirmalàya namah swàha

Artinya: Ya Tuhan, dalam wujud Hyang Siwa hambaMu telah duduk tenang, suci dan tiada noda.


Kalau tersedia air bersihkan tangan pakai air. Kalau tidak ada ambil bunga dan gosokkan pada kedua tangan. Lalu telapak tangan kanan ditengadahkan di atas tangan kiri dan ucapkan mantram:
Om suddha màm swàha

Artinya: Ya Tuhan, bersihkanlah tangan hamba (bisa juga pengertiannya untuk membersihkan tangan kanan).

Lalu, posisi tangan di balik. Kini tangan kiri ditengadahkan di atas tangan kanan dan ucapkan mantram:

Om ati suddha màm swàha

Artinya: Ya Tuhan, lebih dibersihkan lagi tangan hamba (bisa juga pengertiannya untuk membersihkan tangan kiri).


Kalau tersedia air (maksudnya air dari rumah, bukan tirtha), lebih baik berkumur sambil mengucapkan mantram di dalam hati:
Om Ang waktra parisuddmàm swàha

atau lebih pendek:

Om waktra suddhaya namah

Artinya: Ya, Tuhan sucikanlah mulut hamba.


Jika tersedia dupa, peganglah dupa yang sudah dinyalakan itu dengan sikap amusti, yakni tangan dicakupkan, kedua ibu jari menjepit pangkal dupa yang ditekan oleh telunjuk tangan kanan, dan ucapkan mantra:
Om Am dupa dipàstraya nama swàha

Artinya: Ya, Tuhan/Brahma tajamkanlah nyala dupa hamba sehingga sucilah sudah hamba seperti sinarMu.


Setelah itu lakukanlah puja Trisandya. Jika memuja sendirian dan tidak hafal seluruh puja yang banyaknya enam bait itu, ucapkanlah mantram yang pertama saja (Mantram Gayatri) tetapi diulang sebanyak tiga kali. Mantram di bawah ini memakai ejaan sebenarnya, "v" dibaca mendekati "w". Garis miring di atas huruf, dibaca lebih panjang. Permulaan mantram Om bisa diucapkan tiga kali, bisa juga sekali sebagaimana teks di bawah ini:
Mantram Trisandhyà

Om bhùr bhvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayàt

Om Nàràyana evedam sarvam
yad bhùtam yac ca bhavyam
niskalanko nirañjano nirvikalpo
niràkhyàtah suddo deva eko
Nàràyano na dvitìyo’sti kascit

Om tvam sivah tvam mahàdevah
ìsvarah paramesvarah
brahmà visnusca rudrasca
purusah parikìrtitah

Om pàpo’ham pàpakarmàham
pàpàtmà pàpasambhavah
tràhi màm pundarìkàksa
sabàhyàbhyàntarah sucih

Om ksamasva màm mahàdeva
sarvapràni hitankara
màm moca sarva pàpebyah
pàlayasva sadà siva

Om ksàntavyah kàyiko dosah
ksàntavyo vàciko mama
ksàntavyo mànaso dosah
tat pramàdàt ksamasva màm

Om sàntih, sàntih, sàntih, Om

Terjemahannya

Tuhan adalah bhùr svah. Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Hyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita.

Ya Tuhan, Nàràyana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa Nàràyana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua.

Ya Tuhan, Engkau dipanggil Siwa, Mahàdewa, Iswara, Parameswara, Brahmà, Wisnu, Rudra, dan Purusa.

Ya Tuhan, hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba ini papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Hyang Widhi, sucikanlah jiwa dan raga hamba.

Ya Tuhan, ampunilah hamba Hyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah hamba oh Hyang Widhi.

Ya Tuhan, ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelahiran hamba.

Ya Tuhan, semoga damai, damai, damai selamanya.



PANCA SEMBAH

Setelah selesai memuja Trisandya dilanjutkan Panca Sembah. Kalau tidak melakukan persembahyangan Trisandya (mungkin tadi sudah di rumah) dan langsung memuja dengan Panca Sembah, maka setelah membaca mantram untuk dupa langsung saja menyucikan bunga atau kawangen yang akan dipakai muspa. Ambil bunga atau kawangen itu diangkat di hadapan dada dan ucapkan mantram ini:

Om puspa dantà ya namah swàha

Artinya: Ya Tuhan, semoga bunga ini cemerlang dan suci.

Kramaning Sembah (Panca Sembah)

Urutan sembahyang ini sama saja, baik dipimpin oleh pinandita atau pemangku, maupun bersembahyang sendirian. Cuma, jika dipimpin pinandita yang sudah melakukan dwijati, ada kemungkinan mantramnya lebih panjang. Kalau hafal bisa diikuti, tetapi kalau tidak hafal sebaiknya lakukan mantram-mantram pendek sebagai berikut:


Dengan tangan kosong (sembah puyung). Cakupkan tangan kosong dan pusatkan pikiran dan ucapkan mantram ini:
Om àtmà tattwàtmà sùddha màm swàha

Artinya: Ya Tuhan, atma atau jiwa dan kebenaran, bersihkanlah hamba.


Sembahyang dengan bunga, ditujukan kepada Hyang Widhi dalam wujudNya sebagai Hyang Surya atau Siwa Aditya. Ucapkan mantram:
Om Adityasyà param jyoti
rakta tejo namo’stute
sweta pankaja madhyastha
bhàskaràya namo’stute

Artinya: Ya Tuhan, Sinar Hyang Surya Yang Maha Hebat. Engkau bersinar merah, hamba memuja Engkau. Hyang Surya yang berstana di tengah-tengah teratai putih. Hamba memuja Engkau yang menciptakan sinar matahari berkilauan.


Sembahyang dengan kawangen. Bila tidak ada, yang dipakai adalah bunga. Sembahyang ini ditujukan kepada Istadewata pada hari dan tempat persembahyangan itu. Istadewata ini adalah Dewata yang diinginkan kehadiranNya pada waktu memuja. Istadewata adalah perwujudan Tuhan Yang Maha Esa dalam berbagai wujudNya. Jadi mantramnya bisa berbeda-beda tergantung di mana dan kapan bersembahyang. Mantram di bawah ini adalah mantram umum yang biasanya dipakai saat Purnama atau Tilem atau di Pura Kahyangan Jagat:
Om nama dewa adhisthanàya
sarwa wyapi wai siwàya
padmàsana eka pratisthàya
ardhanareswaryai namo namah

Artinya: Ya Tuhan, kepada dewata yang bersemayam pada tempat yang luhur, kepada Hyang Siwa yang berada di mana-mana, kepada dewata yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai di suatu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba memuja.


Sembahyang dengan bunga atau kawangen untuk memohon waranugraha. Usai mengucapkan mantram, ada yang memper-lakukan bunga itu langsung sebagai wara-nugraha, jadi tidak "dilentikkan/dipersem-bahkan" tetapi dibungakan di kepala (wanita) atau di atas kuping kanan (laki-laki). Mantramnya adalah:
Om anugraha manoharam
dewa dattà nugrahaka
arcanam sarwà pùjanam
namah sarwà nugrahaka
Dewa-dewi mahàsiddhi
yajñanya nirmalàtmaka
laksmi siddhisca dirghàyuh
nirwighna sukha wrddisca

Artinya: Ya Tuhan, Engkau yang menarik hati pemberi anugrah, anugrah pemberian Dewata, pujaan segala pujaan, hamba memujaMu sebagai pemberi segala anugrah. Kemahasiddhian pada Dewa dan Dewi berwujud jadnya suci. kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rohani dan jasmani.


Sembahyang dengan cakupan tangan kosong, persis seperti yang pertama. Cuma sekarang ini sebagai penutup. Usai mengucapkan mantram, tangan berangsur-angsur diturunkan sambil melemaskan badan dan pikiran. Mantramnya:
Om Dewa suksma paramà cintyàya nama swàha. Om Sàntih, Sàntih, Sàntih, Om

Artinya: Ya Tuhan, hamba memuja Engkau Dewata yang tidak terpikirkan, maha tinggi dan maha gaib. Ya Tuhan, anugerahkan kepada hamba kedamaian, damai, damai, Ya Tuhan.

Untuk memuja di Pura atau tempat suci tertentu, kita bisa menggunakan mantram lain yang disesuaikan dengan tempat dan dalam keadaan bagaimana kita bersembahyang. Yang diganti adalah mantram sembahyang urutan ketiga dari Panca Sembah, yakni yang ditujukan kepada Istadewata. Berikut ini contohnya:

Untuk memuja di Padmasana, Sanggar Tawang, dapat digunakan salah satu contoh dari dua mantram di bawah ini:

Om, àkàsam nirmalam sunyam,
Guru dewa bhyomàntaram,
Ciwa nirwana wiryanam,
rekhà Omkara wijayam,

Artinya: Ya Tuhan, penguasa angkasa raya yang suci dan hening. Guru rohani yang suci berstana di angkasa raya. Siwa yang agung penguasa nirwana sebagai Omkara yang senantiasa jaya, hamba memujaMu.

Om nama dewa adhisthanàya,
sarva wyàpi vai siwàya,
padmàsana ekapratisthàya,
ardhanareswaryai namo’namah.

Artinya: Ya Tuhan, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat yang tinggi, kepada Siwa yang sesungguhnyalah berada di mana-mana, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu tempat, kepada Ardhanaresvarì, hamba memujaMu.

Untuk di pura Kahyangan Tiga, ketika memuja di Pura Desa, digunakan mantram sebagai berikut:

Om Isanah sarwa widyànàm
Iswarah sarwa bhùtànàm,
Brahmano' dhipatir brahmà
Sivostu sadàsiwa

Artinya: Ya Tuhan, Hyang Tunggal Yang Maha Sadar, selaku Yang Maha Kuasa menguasai semua makhluk hidup. Brahma Maha Tinggi, selaku Siwa dan Sadasiwa.

Untuk di pura Kahyangan Tiga, ketika memuja di Pura Puseh, mantramnya begini:

Om, Girimurti mahàwiryyam,
Mahàdewa pratistha linggam,
sarwadewa pranamyanam
Sarwa jagat pratisthanam

Artinya: Ya Tuhan, selaku Girimurti Yang Maha Agung, dengan lingga yang jadi stana Mahadewa, semua dewa-dewa tunduk padaMu.

Untuk memuja di Pura Dalem, masih dalam Kahyangan Tiga:

Om, catur durjà mahàsakti
Catur asrame Bhatàri
Siwa jagatpati dewi
Durgà masarira dewi

Artinya: Ya Tuhan, saktiMu berwujud Catur Dewi, yang dipuja oleh catur asrama, sakti dari Ciwa, Raja Semesta Alam, dalam wujud Dewi Durga. Ya, Catur Dewi, hamba menyembah ke bawah kakiMu, bebaskan hamba dari segala bencana.

Untuk bersembahyang di Pura Prajapati, mantramnya:

Om Brahmà Prajàpatih srestah
swayambhur warado guruh
padmayonis catur waktro
Brahmà sakalam ucyate

Artinya: Ya Tuhan, dalam wujudMu sebagai Brahma Prajapati, pencipta semua makhluk, maha mulia, yang menjadikan diriNya sendiri, pemberi anugerah mahaguru, lahir dari bunga teratai, memiliki empat wajah dalam satu badan, maha sempurna, penuh rahasia, Hyang Brahma Maha Agung.

Untuk di Pura Pemerajan/Kamimitan (rong tiga), paibon, dadia atau padharman, mantramnya:

Om Brahmà Wisnu Iswara dewam
Tripurusa suddhàtmakam
Tridewa trimurti lokam
sarwa wighna winasanam

Artinya: Ya Tuhan, dalam wujudMu sebagai Brahma, Wisnu, Iswara, Dewa Tripurusa Maha Suci, Tridewa adalah Trimurti, semogalah hamba terbebas dari segala bencana.

Untuk di Pura Sagara atau di tepi pantai, mantramnya:

Om Nagendra krùra mùrtinam
Gajendra matsya waktranam
Baruna dewa masariram
sarwa jagat suddhàtmakam

Artinya: Ya Tuhan, wujudMu menakutkan sebagai raja para naga, raja gagah yang ber-moncong ikan, Engkau adalah Dewa Baruna yang maha suci, meresapi dunia dengan kesucian jiwa, hamba memujaMu.

Untuk di Pura Batur, Ulunsui, Ulundanu, mantramnya:

Om Sridhana dewikà ramyà
sarwa rupawati tathà
sarwa jñàna maniscaiwa
Sri Sridewi namo’stute

Artinya: Ya Tuhan, Engkau hamba puja sebagai Dewi Sri yang maha cantik, dewi dari kekayaan yang memiliki segala keindahan. Ia adalah benih yang maha mengetahui. Ya Tuhan Maha Agung Dewi Sri, hamba memujaMu.

Untuk bersembahyang pada hari Saraswati, atau tatkala memuja Hyang Saraswati. Mantramnya:

Om Saraswati namas tubhyam
warade kàma rùpini
siddharàmbham karisyami
siddhir bhawantu me sadà

Artinya: Ya Tuhan dalam wujudMu sebagai Dewi Saraswati, pemberi berkah, terwujud dalam bentuk yang sangat didambakan. Semogalah segala kegiatan yang hamba lakukan selalu sukses atas waranugrahaMu.

Demikianlah beberapa mantram yang dipakai untuk bersembahyang pada tempat-tempat tertentu. Sekali lagi, mantram ini menggantikan "mantram umum" pada saat menyembah kepada Istadewata, yakni sembahyang urutan ketiga pada Panca Sembah.
Mangku Puja

Wednesday, April 17, 2013

DUDONAN PEMARGI CARU PENYEPIAN (H-1.JAM 17.00 PM)





(Banten : ring nista mandala, caru siap brumbun, suci , segehan agung, sorohan, pengambeyan, sayut ketipat sange, byakaon, durmanggala, prayascitha)
Acara :
1.Pesucian, Byakaon, Durmanggala, Prayascita
2.Caru siap brumbun
3. Keluhur

A. Setelah persiapan upacara selesai , lalu manggala upacara mulai mengambil / mengatur sikap dengan cara sebagai berikut:

1. Cuci tangan
Mantra : Om Hrah phat astra ya namah

2. Berkumur

Mantra : Om Ung phat astra ya namah

3. Asana (sikap bersila)

Mantra : Om prasada sthiti sarira ciwa suci nirmala ya namah

4. Pranayama (mengatur pernafasan)

a. Puraka : Om Ang namah
b. Kumbaka : Om Ung namah
c. Recaka : Om Mang namah

5. Karasodana

Tangan kanan diatas menengadah : Om sudhamam swaha
Tangan kiri diatas : Om Ati sudhamam swaha
Mencucikan mulut : Om waktra sudhamam swaha

6. Membakar dupa

Mantra : Om Ang dhupa dipa astra ya namah

7. Menghirup asap dupa dengan cara tangan diasapi lalu dihirup berulang-ulang tiga kali

Mantra : Om Ang Brahmamrtha dipa ya namah
Om Ung Wisnumrtha dipa ya namah
Om Mang Iswaramrtha dipa ya namah

8. Mensucikan bija :

Mantra : Om Puspa danta ya namah
Om Kum kumara vija ya namah
Om Sri gandaswari amrtha bhyo ya namah swaha

9. Menuntun Atma dengan sikap tangan mudra didepan dada

Mantra : Om Ang hrdhaya ya namah
Om Rah phat astra ya namah
Om Hrang Hring sah parama siwamrtha ya namah

10. Mohon Panugrahan Ciwa - Budha

Mantra : Om nama Siwa ya, namo Budha ya,
nugrahi mami nirmala, sarwa sastra suksma sidhi,
Om Saraswati prama siddhi ya namah,
sarwa karya sudha nirmala,ya namah swaha
Om siwa sadha siwa parama siwa budha
Dharma sanggya ghana dipatya ya nama swaha

11. Dilanjutkan dengan mengambil kembang terlebih dahulu diasapi dengan dupa

Mantra : Om puspa dantha ya namah swaha
Dilanjutkan dengan ASTRA MANTRA
Om Ung hrah phat astra ya namah
Om Atma tatwatma sudhamam swaha
Om Om ksama sampurna ya namah
Om Sri pasupati ung phat
Om Sriambawantu ya namah
Om Sukhambawantu ya namah
Om Purnam bhawantu ya namah swaha

(Bunga dimasukkan dalam Sangku)

B. PENGAKSAMA :

1. Selanjutnya kita dahului dengan memohon maaf kehadapan Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya.

Mantra : --Om Ksama swamam Maha Dewa
Sarwa prani hitan karah
Mam mocca sarwa papebhyah
Palayaswa sada siwa
--Om Papoham papa karmaham
Papatma papa sambawah
Trahinam sarwa papebpyah
Kanacinmam ca raksantu
--Om Ksantawyah kayika dosah
Ksantawya wacika mama
Ksantawyah manasa dosah
Tat prasiddha ksamaswa mam

C.Mohon Tirtha

1. Tirta pebersihan
a. Om hrang hring sah prama siva gangga amertha ya namah swaha
Om siva amertha
Om sada siwa amrtha
Om parama siva amrtha ya namah swaha

b. Apsu Dewa
--Om Apsu dewa pavitrani
Gangga devi namo stute
Sarwa kleca vinasanam
Toyana Pari Chudhyate
--Om sarwa papa vinacini
Sarwa roga vimocane
Sarva kleca vinacanam
Sarva bhogam avap nuyat

c. Pancaksara
--Om pancaksaram maha tirtam
Pavitra papa nacanam
Papo koti sahas ranam
Agadam bhavet sagaram
--Om pranayama baskara devam
Sarva klesa winasanam
Pranamia ditya siwartam
Bukti mukti warapradam
---Om gangga Saraswathi Sindhu
Vipaca kociki nadhi
Yamuna mahati crsthah
Sarayucca maha nadi

2. Mohon tirta untuk diri sendiri dengan sikap amustikarane
Om idhep bhatara panca tatagata,
mwang bhatara ratna traya
umandali bhajradaka ya namah swaha.
Om Gangga sindhu Saraswati
Wipase kosiki nadi
Yamuna mahati trostah
Serayunca mahanadi
Om bhur bwah swah tirta maha pawitra yanamah swaha
(Perciki Tirta untuk Penganteb saja)

D. Ambil gentanya perciki dengan tirta, asapi dengan dupa

Dan Mantram : Om ang dupa dipa astra ya namah swaha
Diperciki dengan Astra Mantra :
1. Om Ung hrah phat astra ya namah
Om Atma tatwatma sudhamam swaha
Om Om ksama sampurna ya namah
Om Sri pasupati ung phat
Om Sriambawantu ya namah
Om Sukhambawantu ya namah
Om Purnam bhawantu ya namah swaha

2. -Om kara sadhasiwa stham
Jagatnatha hitangkarah
Abiwada wada niyam
Genta sabda prakasiate
-Om ganta sabda maha sretam
Ongkarem parikirtitam
Chandra nada windu nadakam
Spulingga siwa tatwamca
-Om gantayur pujyate Dewa
Abawa-bawa karmesu
Warada labde sandeyah
Waram siddhi nirsangsayam

3. Sesudah ngastawa genta pentil palit genta sebanyak tiga kali kearah depan mantra :
Om – Om – Om
Kemudian genta itu di taruh
Mantra : Om ang kang kasolkaya yanamah
(dengan sikap amusti kerana setelah itu baru pakai genta sampai puput)

E.1.. Memohon tirta pengelukatan

Mantra : --Om Sang Bang Tang Ang Ing
Nang Mang Sing Wang Yang
Om Hrang Hring Sah parama Siwa
Gangga amerta yanamah swaha
--Om sarwa belikam prthiwi
Brahma Wisnu Maheswara
Anaking Dewa Putra Sarada
Sarvanastu ya namah swaha
--Om Sam Prajanam sarveda suddhamala
Suddharogah suddhadanda patakah
Suddhavignam suddha sakala
Dasa mala suddhadanda upata
--Om vasuputra tubyam namah swaha
Om siddhi guru srong sarasat sarva wighnam ya namah
Sarva klesa sarva roga sarva satru
Sarva papa vinasaya namah svaha

--Om Gangga sindhu Saraswati
Suyumuna gudawari narmada
Kaweri sarayu mahendra tanaya
Carmanwathi winukam
Bhadra netravati maha suranadi
Khyantan ca ya gandaki
Punya purna jalah samudra
Sahitah kurvantu te manggalam

c. Pancaksara
--Om pancaksaram maha tirtam
Pavitra papa nacanam
Papo koti sahas ranam
Agadam bhavet sagaram
--Om pranayama baskara devam
Sarva klesa winasanam
Pranamia ditya siwartam
Bukti mukti warapradam
---Om gangga Saraswathi Sindhu
Vipaca kociki nadhi
Yamuna mahati crsthah
Sarayucca maha nadi

F. Nunas Tirta Pangelukatan

1. --Om gangga muncar saking wetan, tinghalin telaga hojanira, jambanganira selaka, tinanceban tunjung putih, padyusan Bhatara Iswara,
--Om gangga muncar saking kidul tinghalin telaga hojanira, jambangannira tembaga, tinanceban tunjung bang, padyusan Bhatara Brahma,
--Om gangga muncar saking kulon, tingalin telaga hojanira, jambanganira mas, tinanceban tunjung kuning, padyusan Bhatara mahadewa,
--Om gangga muncar saking lor , tinghalin telaga hojanira, jambangan wesi, tinanceban tunjung hireng, padyusanira Bhatara Wisnu,
--Om gangga muncar saking tengah , tinghalin telaga mumbul, ring sapta petala, muncar ring luhur, tinghalin telaga hojanira, jambangan nira amanca warna, tinanceban tunjung amanca warna , padyusanira Bhatara Siwa,

2. Ginawe panglukatan bebanten, wenang Bhatara Siwa anglukat, anglebur dasa mala, hinambelan dening wong campur, kaletehan dening hodak, keraraban dening roma kahiberan dening ayam, kelangkahan dening sona, menawita keraraban, katuku ring pasar, keprayascitha denira Sang Hyang Tigamurti Hyang, Sang Hyang Eka Jnyanasurya, Sang Hyang suci nirmala,menadyang luwiring bebanten, Om sri ya we ya namah.

G. Menghaturkan banten Pesucian (buhu-buhu, tepung tawar, tetebus, kekosok) sekaligus di anteb karena tergabung di pesucian.
1. Buhu-buhu
Mantra : --Om sweta tirtanca nityam, pawitram papa Nasanam,
Sarwa rogasca nagasca, sarwa kali kalasu wina sanam
--Om Rakta tirtanca, Om kresna tirtanca, Om sarwa tirtanca yawe namo namah swaha
2. Tepung tawar , segau
Mantra : Om Sanjna asta sastra empu sarining wisesa
Tepung tawar amunahaken, segau angeluaraken
Sakuehing sebel kandel lara roga baktanmu
3. Kekosok
Mantra : Om Tresna taru lata kebaretan kalinusan dening angin angampuhang mala wigna
Om Sidhirastu ya namah swaha

4. Tetebus
Mantra : Om raga wetan angapusaken balung pila pilu
Angapusaken otot pilu, den kadi langenging Sang Hyang Surya mangkana langgenging angapusaken kang tinebus-tebas, Om Sampurna ya namah

5 .Byakala, , Durmanggala, Prayascitha
a. Byakala
Mantra : Om kaki bhuta panampik mala
Kaki bhuta panampik lara
Kaki bhuta panampik klesa
Undurakena bhaya kalaning
Manusaning hulun
--Om ksama sampurnaya namah
b. Isuh-isuh
Mantra : Om Sang Hyang taya tan panetra, tan pa cangkem, tanpa karna, sang hyang taya jati sukla nirmala, sira mangisuh-isuhing sarwa dewata, angilangaken sarwa bhuta dengen kala ring pada bhatara kabeh, Syah ta kita saking kulit ring balung ring sumsum, Mantuk ta kita maring jipang sabrang melayu
Om mam nama siwa ya swaha

6. Durmanggala (ada di semua caru):

Mantra : Om sang kala purwa sang kala sakti, sang kala braja, sang kala ngulalang, sang kala petre, sang kala suksma. Aja sira pati papanjingan pati paperet ngi, iki tadah sajinira, penek lawan trasi bang, bawang, jahe, anadaha sira tur lunga. Manawi kirang tadahan iki jinah satak sulawe, lawe satukel, maraha sira ring pasar agung nggena tuku ring pasar agung wehan sanak rabinira sowang-sowang ajasira mawali muwah pada ewahana, pada sidhi swaha
Om mrtyunjaya rakta saraya sarwa rega upadrawa, papa mretyu sangkara, sarwa kali kalika syah wigraha ngawi pada, susupena durmanggala, papa krada winasaya, sarwa wighnaya namah swaha

7. Pyayascitha +ngadegang list (lis gadang)
Mantra : --Om Sang Janur kuning pangadegan ira turun Bhatara Ciwa kabaktaning janma manusa kabeh , muang kalabetaning dewata kabeh.
--Om ksama sampurna ya namah

Om janur kuning , puput ngelisin, puput nyupat, om sidhirastu tat astu swaha

Lalu diperciki tirtha dengan mantra (ngosokang lis gede):

Om jreng jreng sabuh angadeng nagilang akna sarwa
kalan ira sang linislisan
Om sabur sweta, sabur rakta, sabur pitha
sabur krsna, sabur manca warna sarwa karya prayascita
ya suci nirmala ya namo namah swaha

8. Prayascita

Mantra : --Om prayascita kare yegi
Catur warna wicintayet
Catur wawtranca puspadyam
Ang greng reng bya stawa samam
--Om agni rahasia mukam mungguh bungkahing hati angeseng saluwiring dasa mala, teka geseng, geseng, geseng
-Om prayascita subagiyamastu

(Ibu-ibu keliling menyucikan di jeroan, bangunan semua, dengan toya anyar, pangelukatan , byakala,durmangala prayascitha)

H.CARU :

I.1. Catatan :
a. Siapkan gelas sukla 1 buah untuk tempat tirta , dengan warna bunga brumbun
b. Setelah dipuja , ditaruh pada caru

c. Sebelum muktiang , caru itu semuanya disimbuh dengan suna, jangu dan disirat tirta caru masing-masing pakai bebuhu (lis)

2. Semua sesaji yang dipersembahkan diperciki dengan tirtha penglukatan (dari tempat duduk)

Mantra : Om om sampurna ya namah
Om sudha, sudha, sudha, sudha, parisudha ya namah
Om sudha akasa, sudha bumi, sudha wighna, sudha mala , sudha papa klesa , Kasudha dening Sang Hyang Trilokanatha .Om sidhirastu tat astu svaha
Om pretama sudha , dwitya sudha, tritya sudha, caturty sudha . Sudha sudham wariastu

3. Surya stawa (Pesaksi caru)

Mantra : Om Surya seloka nata sya, warada sya swarcanam
Sarwantah tasya sidantam, suda naya santyasam.
Om asita mandala mertyu, sitala satru nasanam,
kawi wisya rakta teja, sarwa bawa bawet bawat

4. Pertiwi stawa :

Mantram : Om pertiwi sariram dewi, catur dewa mahadewi,
catur asrama batari, siwa bumi mahasidhi
Om ring purwa ksiti Basundari, siwa patni putra yoni,
Uma durga gangga dewi, brahma betari wisnawi
Om mahe swari hyang kumari, gayatri berawi gauri,
Arsa sidhi maha, Indra Nicambuni dewi
Om akasa siwa tattwa ya namah swaha
Om pertiwi dewi tattwa ya namah swaha

5. Mensucikan sesajen , sesudah itu sesajen disucikan dengan ,

Mantra : Om Sang Hyang Tiga Murti Hyang
Sang Hyang Ekajnana cuntaka
Sang Hyang Suci Nirmalajnana
Makadi bhatara malingga ring
babanten kararaban, karampwan
denamel dening wang campur
kararaban roma , Kwaltikaning Cone
kaparodan ing wak , kapryascita den ira
Sang Hyang Tiga Murti Hyang
Sang Hyang Ekajnana cuntaka
Sang Hyang Suci Nirmalajnana
--Om criyo wai ya namo namah swaha

6. Suci (untuk caru)

Om nama siwa ya , tan kabretang tulah sarik, luputang lara wighna, aminta pamangku amuja, kurusya maka pulacek, pretenjala maka padma, Hyang Dewa maka puspa lingga padanira, sang Hyang Pulacek, Sang Hyang wisesa, Sang Hyang Warsasya sira makudi manik, kancana mas sang kasuhun, paduka Bhatara Kala sakti, pakundan Bhatara Ghana, jangan Bhatara Kwera, tasik Bhagawan anggasti, pisang Sang Hyang Kumara, kembang Sang Hyang Smara, jambe Bhatara Brahma, sirih Bhatara Hyang Wisnu, apuh Bhatara
Hyang Iswara, awus-awus Bhatara Mahadewa, pala bhatara siwa, sang hyang sambhu lenga burat wangi, Sang hyang rudra maka caru, banten sang Hyang Widhi. Suklapaksa sajenge Hyang Besawarna, ulam Bhatara Baruna, lelawuh Bhatara Mahesora, saberas maka simbuhan, sadana, pinaka natar, bhatara suci nirmala, anduse andasarin , sari suci nirmala, puja bhatara lumanglang, kang pinuja Bhatara Dharma, nguniweh jagat wisesa akasa lawan pretiwi, raditya kalawan ulan, Sang Hyang Tunggal , tunggal amuja, Hyang Pranamasari ring rat, kastuti dening sloka, sampurna Hyang nama swaha

7. Memohon Tirta Caru (gunakan gelas sukla) :

Mantra : Om gangga dwara parayageca, gangga sagara sanggama,
Sarwa angga ta bur labate, tribih sethanir wisesatam
Om papaham papa karmaham, papatma papa sambawah,
Trahinam pundari kaksah, sabahya byantara suci
Om sidi guru srong serapat, sarwa wigena, sarwa klesa,
Sarwa roga, sarwa satru, sarwa papa winasanam ya namah.
(Ambil tirta dari banten pesaksi di Surya, dan ketiskan ke banten caru)

8. Ngundang butha

Mantram :
Pekulun kaki batara kala, paduka batari durga, kaki batara ghana, sang Hyang panca muka, aja sira nyengkala karyanipun anu, apan sampun angantukana caru baya kalan, amukti, sira sama sukasira ring sang adruwe caru, teka waras, teka waras, teka waras.

9. Mantra Pemali sebelum muktiang Caru :

Om indah ta kita butha jigra naya merupa manca warna kita ratu ningrat, kala dengen mehanak I Pemali putun darakka undar-andir eka dasa ruang ira kita ngawe kilap cuntaka ke baya-baya ke punah den ira. Sang butha Jigra Maya
Om ang ksama sampurna ya namah
Sa Ba Ta A I nama siwaya

10. Muktiyang caru (Sutri ngayab caru ke bhuta)

Mantra : Om sang bang tang ang ing
nang mang sing wang yang
Om bhuktiantu durgha bucari
Om bhuktiantu durgha katara
Om bhuktiantu kala mewaca
Om bhuktiantu buta butangga
Om bhuktiantu buta butanaem
Om suasti suasti sarwa bhuta suka predana ya namah swaha
Om bhuktayantu, dhurga ketara, buktayantu kaladewasca,
bhuktayantu sarwa bhuktanam, bhuktayantu pisaca sangkyam.
Om dhurga loka boktaya swaha
Om bhuta loka boktaya swaha
Om kala loka boktaya swaha
Om pisaca loka boktaya swaha

11. Pengelukatan Butha :

Mantram :
Om lukat sira Butha dengen ,sumurup ring butha kalika
Om lukat sira Butha kalika sumurup ring batari Durga
Om lukat sira Betari Durga sumurup ring Betari Uma
Om lukat sira Betari Uma sumurup maring batari Guru
Om lukat sira Betari Guru sumurup ring Sang Hyang Tunggal
Om lukat sira Sang Hyang Tunggal sumurup ring Sangkan paran
Sira juga sangkaning sangkan paran,
Sira juga prasida anglukat mala papa petaka kabeh
Om ang kesama sampurna ya namah

13. Mantra layang-layang Caru

Mantram :
Pukulun bhatara Hyang Kala bhatara sakti, Sang kala Putih, Sang Kala Bang, Kala Pita, Kala Ireng, Kala Manca Warna, Kala Tiga Sakti, Kala Karogan, Sang Kala Kapepengan, salah agring, Sang Kala Kapati, sedahan Sang Kala, aja sira anyengkalaning, Sang Hyang esa ring Parhyangan Sakti, reh ipun sampun angaturaken tadah saji ring Bhatara Kala, punika ta kabukti denira kabeh.
Om makram swami mahadewi, sarwapranihitangkara, mamoca sarwa papebyah, manadi Hyang nama swaha.

14. Mantram ngantukang /Ngaluarang Kala

Pukulun angadeg Bhatara Hyang Siwa , Brahma, Wisnu, angluarakena sakwehning sengkalaning Sang Hyang Desa, ring Kahyangan Sakti, Om sarwa Kala sampurna ya namah swaha.

I. 1. Mantram /pasupati bebuhu (gunakan untuk ngayabang caru) :
Om janur kuning puput ngelisin , puput nyupat, Om sidirastu ya namah

2. Caru Ayam Brumbun (ditengah) :

Om indah ta kita sang bhuta saksi, ring madya desanira. Kliwon panca waranya Dewa Siwa dewatanya , iki tadah sajinnira penek manca warna maiwak ayam brumbun, ingolah winangun urip, katekeng seruntutannya , ajak sawadwanira ulung siki, minawi wenten luput den agung sinampura sang adruwe caru, sira ta anugrahaken dirghayusa. Ong Ing Namah Swaha

3.Banten pemogpog (pejati) :

Mantram : --Om paramah ciwa twam gohyah
Civa tatva parayanah
Civasya pranoto nityam
Candisaya namo stute
--Om nevadam Brahma Visnucca
Bhoktra deva mahecvaram
Sarva vya din alabhati
Sarva karyanta siddhantam
--Om jayarti jayam apunyat
Ya cakti yacam apnoti
Ciddhi sakalam apunyat
Parama Ciwa labhati
--Om bhoktra laksana yanamo Namah swaha

4.Sutri ngayab ring Surya :

Mantram : Om Surya seloka nata sya, warada sya swarcanam
Sarwantah tasya sidantam, suda naya santyasam.
Om asita mandala mertyu, sitala satru nasanam,
kawi wisya rakta teja, sarwa bawa bawet bawat

5. Sutri ngayab ring Padma :

Mantram : Om Om anantasana ya namah
Om rm dharma singa rupaya svetha varna ya namah
Om rm jnana singa rupaya rakta varna ya namah
Om rm viragya singa rupaya pita varna ya namah
Om rm Iswara singa rupaya kresna varna ya namah swaha
Om Om padmasana ya namah swaha
Om I Ba Sa Ta A
Om Ya Na Ma Si Va
Om Mam Um Am namah
Om Om Dewa pratista ya namah
Om Sa Ba Ta A I
Om Na Ma Si Va Ya
Om Ang Ung Mang Namah

6. Sutri ngayab ring Pretiwi :

Mantram : Om pertiwi sariram dewi, catur dewa mahadewi,
catur asrama batari, siwa bumi mahasidhi
Om ring purwa ksiti Basundari, siwa patni putra yoni,
Uma durga gangga dewi, brahma betari wisnawi
Om mahe swari hyang kumari, gayatri berawi gauri,
Arsa sidhi maha, Indra Nicambuni dewi
Om akasa siwa tattwa ya namah swaha
Om pertiwi dewi tattwa ya namah swaha

7. Ngunduran sahe ngelebar caru , Serana pengunduran

a. Kulkul , sampat, tulud, tungked/papah, geni/danyuh
Dipasupati dengan puja Astra mantra

Mantra : Om Ung hrah phat astra ya namah
Om Atma tatwatma sudhamam swaha
Om Om ksama sampurna ya namah
Om Sri pasupati ung phat
Om Sriambawantu ya namah
Om Sukhambawantu ya namah
Om Purnam bhawantu ya namah swaha

b. Nyider murwa daksina (dari utara ke selatan) tiga kali dengan suara suriak-suriak

8. Mantra :
Riwus sira pemuktian caru pemuliha sira ripasenetan sira soang-soang, wihana urip waras, dirgayusa.
Ong sidirastu yanamah suwaha

9. Pangelebaran caru (sutri ngayab tur lebar) :

Mantra : Om tang ang ing sang bang ung ca tat
Om gemung gangga dipataya
Om hrang rajastra ya namah
Om phat phat phat
Om ang sura bhalaya namah
Om ung cakra bhalaya namah
Om mang namas karaya namah
Om sang bang tang ang ing
Panca maha bhuta bhiyo namah.
10.Ayu wreddhi
Mantra: --Om ayu vreddhi yaca vreddhi
Vreddhi prajna sukha criyam
Dharma santana vreddhin syat
Santute sapta vreddhayah
--Om yavan meru stitho devah
Yavad gangga mahitale
Candrarko gagana yavat
Tavad va vijayi bhavet
--Om dirghayur astu tad astu-astu svaha

(Caru ditanam dan banten caru lainnya di buang diluar pura)

11. Segehan agung pakai pitik (anak ayam) atau telor ayam
Mantra :
Om Sang Hyang Perusangkara, anugraha ring Sang Kala sakti Sang Hyang Rudra anugraha ring Sang Kala Wisesa. Sang Hyang durga dewi anugraha ring sang dengen. Amang-amang pada nira paduka bhatara sakti anunggu ring bumi, ring pura peryangan, natar peumahan, didalem pesuguhan wates setra pebayangan, saluir lemah angker, manusa aweh tadah sajinira, watek kala, butha kabeh. Iti tadah sajinira segeh iwak sembleh, ising kirang asing luput, nyata pipis sebundel patukon sira ring pasar agung, pilih ke belannira ajakan kalanira kabeh, enyah kita saking kene apansira sampun sinak senan, wehana manusanira urip waras, dirgayusa.
Om kala bhokta ya namah, bhuta ya namah, pisaca bhokta yanamah, dhurga bhukti ya namah.

12. Segehan cacahan :
Mantra : Om dhurga bhucari ya namah
Om kala bhucari ya namah
Om bhuta bhucari yanamah

Metabuh : Ebek segara, ebek danu, ebek banyu permanahin hulun.Pomo- pomo -pomo
Sambehan beras : Iki pemohpoh, pomo-pomo-pomo
Toye anyar : Om gangga pawitrem

13. Ngayabang banten sor (segehan)

Mantra : --Om Ang Kang kasolkaya isana wosat
Om Swasti swasti sarwa bhuta kala
Suka ya namah swaha
Sonteng : Riwus sira amuktiaken segehan
muliha sira ring pasenetan nira sowang-sowang
Haywa ngrubeda , anyengkalen bhatara dewa ring kayangan sakti
Dilanjutkan dengan metetabuhan (arak berem)
Mantra : Om ebek segara, ebek danu, ebek banyu pramananing hulun

14.Mantram sasayut katipat kesanga :

Mantra (sonteng):
Ong Sang Hyang Kamadat, sira Sang Hyang Wisesa, uriping jagat bhuwana kabeh.
Bhatara siwa sampurna Bhatara pangluar, kaki camarik nini samarik, Sang Hyang Triyodasa saksi , ya namah.

J.1. Banten Pekideh

1. Suci
Om nama siwa ya , tan kabretang tulah sarik, luputang lara wighna, aminta pamangku amuja, kurusya maka pulacek, pretenjala maka padma, Hyang Dewa maka puspa lingga padanira, sang Hyang Pulacek, Sang Hyang wisesa, Sang Hyang Warsasya sira makudi manik, kancana mas sang kasuhun, paduka Bhatara Kala sakti, pakundan Bhatara Ghana, jangan Bhatara Kwera, tasik Bhagawan anggasti, pisang Sang Hyang Kumara, kembang Sang Hyang Smara, jambe Bhatara Brahma, sirih Bhatara Hyang Wisnu, apuh Bhatara
Hyang Iswara, awus-awus Bhatara Mahadewa, pala bhatara siwa, sang hyang sambhu lenga burat wangi, Sang hyang rudra maka caru, banten sang Hyang Widhi. Suklapaksa sajenge Hyang Besawarna, ulam Bhatara Baruna, lelawuh Bhatara Mahesora, saberas maka simbuhan, sadana, pinaka natar, bhatara suci nirmala, anduse andasarin , sari suci nirmala, puja bhatara lumanglang, kang pinuja Bhatara Dharma, nguniweh jagat wisesa akasa lawan pretiwi, raditya kalawan ulan, Sang Hyang Tunggal , tunggal amuja, Hyang Pranamasari ring rat, kastuti dening sloka, sampurna Hyang nama swaha

2. Astra mantra
Om Ung hrah phat astra ya namah
Om Atma tatwatma sudhamam swaha
Om Om ksama sampurna ya namah
Om Sri pasupati ung phat
Om Sriambawantu ya namah
Om Sukhambawantu ya namah
Om Purnam bhawantu ya namah swaha

3. Menghaturkan sesajen dalam bentuk pejati ke taksu
Mantra : --Om Siwa sutram yadnya pawitram
Paramam pawitram prajapati jyogayusyam
Balamastu tejo paramam
Gohyanam triganam triganatmakam
--Om Namaste bhagawan agni
Namaste bhagavan ari
Namaste bhagawan isa`
Sarwa baksa utasanam

4. Selanjutnya muktiang sesajen kepada Sang Hyang widhi , para Deva dan Bhatara (ngayabang samian)
Mantra : --Om deva buktam maha sukam
Bojonam parama samertam
Deva baksia maha tustam
Bokte laksana karanam
--Om bhuktiantu sarwata dewa
Bhktiantu tri lokanam
Saganah sapari warah
Sawarga sadasi dasah
--Om deva boktra laksana ya namah
Om deva trapti laksana ya namah
Om treptia parameswara ya namah swaha

5. Menghaturkan sembah kepada Sang Hyang Siwa Raditya
Mantra : -Om Adityasia paramjyotih
Rakta teja namustute
Sivageni teja mayance
Siva Dewa wisiantakem
-Om padma lingganca pratista
Astadewa prakirtitam
Siwagraha sangyuktam
Ganaksaram sadasiwa
-Om Sa Ba Ta A I
Na Ma Si Va Ya Ang Ung Mang

6. Menghaturkan asep kepada para Dewa dan Batara
Mantra : Om Ang Brahma sandhya namo namah
Om Ung Wisnu sandhya namo namah
Om Mang Iswara sandhya namo namah

7. Puja Jagatnata
Mantra : Om Ang Brahma Perajapati sretah
Suyambu weradem guru
Om brahma sekayam usiyatha
Om rang ring sah Brahma praja pati
Ya nama namah

8. Pengaksama Jagatnatha
Mantra : Om ksamaswamam Jagatnatha
Sarwa papa nirantaram
Sarwa karya minda dehi
Prenamya misora isanam
--Om ksama swamam maha yasta
Yastha surya gunatmakam
Winasaya sesatem papem
Sarwa seloka darpayana
--Om gring dewa arcanaya ya namah swaha
Om gring dewa tarpana ya namah swaha

K. Dilanjutkan dengan persembahyangan bersama .

1. Puja Tri Sandhya
2. Muspa Panca Sembah
a. Sembah tangan kosong
Mantra : Om Rah phat Astra ya namah swaha
Om Atma Tatwatma sudhamam swaha

b. Sembah memakai kembang kepada Betara Surya
Mantra : --Om Aditya sya paramjyotir
Rakta teja namustute
Sweta pangkaja madhyasta
Basjkaraya namustute
--Om Pranamya baskara dewam
Sarwa klesa winasanam
Pranamya ditya siwartham
Bukti mukti warapradam
--Om Hrang hring sah parama ciwa ditya ya namah swaha

c. Sembah memakai kembang/ kewangen ke Dewa Samodaya
--Om Namo Dewaya adhisthanaya
Sarwa wyapinesiwaya
Padmasanaya ekaprathisthaya
Ardanareswarya ya namah swaha
--Ung Akasem nirmalam sunyem
Guru Dewa bhyomantarem
Ciwa sekala sampurnem
Reka ungkara ye namah swaha

d. Sembah memakai kembang/ kewangen ke pertiwi
Mantra :-- Om pertiwi sariram dewi
Catur dewi maha dewi
Catur asrami bhatari
Siwam bhumi maha sidhi
Om purwani basundari
Siwampati empu priyoni
Uma durga gangga gori
Brahma bhatari wisnawi
Om anugraha sarwa amertha
sarwa lara winasanam

e. Sembah memakai kewangen untuk memohon waranugraha
Mantra :--Om Anugraha manoharam
Dewa datha nugrahakam
Hyarcanam sarwa pujanam
Namah sarwa nugrahakam
--Om Dewa dewi maha sidhi
Yajnanga nirmalatmaka
Laksmi sidhisca dirgayuh
Nirwighna suka wreditah
--Om Ghring anugraha arcanaya namo namah swaha
Om Ghring anugraha manuharaya namo namah swaha
--Om ayu vreddhi yaca vreddhi
Vreddhi prajna sukha criyam
Dharma santana vreddhin syat
Santute sapta vreddhayah
f. Sembah tangan kosong
Mantra : Om Dewa suksma Paramecintya ya namah swaha
Om Santhi Santhi Santhi Om

3. Memohon tirta Wangsuhpada
-- Om Namaste bagawan gangga, namaste sita lambwapi,
salilam wimalam toyam, swambu tirtha bojanam
---Om subeksa asta asteya, dosa kilbi sana sane
pawitram semaha tirtha, gangga tirtha maha nadhi
---Om bajra reni maha tirtha, papa soka wina sanam
Nadi puspa laya nityam, nadi tirtha ya praya
---Om tirtha nadi kumbasca, warna dewa mahatmanam
Muninam manggala sumcaya, wiyapica dewa akasah
---Om sarwa wigena winasantu , sarwa klesa winasantu
sarwa papa winasaya, sarwa roga winasanam

4. Puja pengramped wasuh pada , menjurus segala yadnya.
Astra Mantra
Om Ung hrah phat astra ya namah
Om Atma tatwatma sudhamam swaha
Om Om ksama sampurna ya namah
Om Sri pasupati ung phat
Om Sriambawantu ya namah
Om Sukhambawantu ya namah
Om Purnam bhawantu ya namah swaha
Om Siwa sampurna ya namah
Om sadha siwa paripurna ya namah
Om parama siwa ksama sampurna yanamah
Om gangga amerta yanamah
Om candra amerta ya namah
Om siwa sudamam swaha
Om hati sudhamam swaha
Om rang ring sah perama siwa
gangga amerta yanamah swaha

L. Metirtha

Dilanjutkan dengan matirtha dan mabija
a. Matirtha ( dipercikan tiga kali di kepala)
Mantra : Om Budha pawitra ya namah
Om Dharma maha tirtha ya namah
Om Sanggya maha toya ya namah
b. Diminum tiga kali
Mantra : Om Brahma pawaka ya namah
Om Wisnu amertha ya namah
Om Iswara jnana ya namah
c. Diraup tiga kali di kepala
Mantra : Om Sampurna ya namah
Om Sadhasiwa paripurna ya namah
Om Paramasiwa sukma ya namah
d. Memakai kembang ditelinga
Mantra : Om Sri asmara ya namah
e. Mabija
Mantra : Om Wija -wija kara ya namah
M. 1. Penutup
--Om Hinaksaram hina padam
Hina mantram tathaiwaca
Hina bhaktim hina wrdhim
Sada ciwa namo stute
--Om mantra hinam kriya hinam
Bhakti hinam Maheswara
Yat pujitam Mahadewa
Pari purnam tad astume
2. Kalau rangkaian upacara itu sudah selesai dilanjutkan dengan Puja Pralina
Mantra : Om A Ta Sa Ba I
Om Na Ma Si Wa Ya
Om Ang Ksama sampurna ya namah swaha

Rangkaian upacara oleh Manggala ditutup dengan parama santhi
Mantra : Om santhi santhi santhi Om

(Tirta caru boleh dibawa pulang oleh masing-masing warga )
Giri Kusuma